
Di dalam Al Qur`an,
Allah subhanahu wa ta’ala telah mejelaskan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan
ummatnya, bahwa Dia adalah “Da`i“. Dai dalam pengertian, bahwa Allah
mengajak manusia untuk menjadi penghuni surga, yaitu kampung kedamaian dan
keselamatan. Begitu pula Allah mengajak manusia agar memasuki pintu gerbang
pengampunan-Nya.
Penjelasan Allah ini
termaktub dalam Al Qur`an :
1. Surat Al Baqarah, ayat 221, yaitu :
…وَاللَّهُ
يَدْعُوْ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ…
“...Dan Allah mengajak (manusia) ke surga dan ampunan
dengan izin-Nya...”
Ibnu Jarir At Thabari,
dalam kitab tafsirnya Jilid IV, halaman 37, berkata, “Yang di maksud oleh ayat
itu : ”Allah menyeru kalian untuk
mengerjakan amal yang menyebabkan kalian masuk surga dan membuat kalian selamat
dari neraka. Begitu pula Allah menyeru kepada amal yang menyebabkan kesalahan
dan dosa-dosa kalian terhapus, sehingga Allah memaafkannya dan menutupinya atas
kalian.”
Yang di maksud “dengan izin-Nya“, Ibnu Katsir dalam
kitab tafsirnya, jilid I Halaman 585, berkata : “Yang dimaksud (dengan izin-Nya), ialah dengan Syari`at-Nya dan dengan
apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang-Nya.”
2. Surat Yunus, ayat 25, yaitu :
وَاللَّهُ يَدْعُوْ
إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan
memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus
(Islam).”
Ibnu Jarir Ath
Thabariy, dalam kitab tafsirnya, jilid 15, halaman 61, berkata : Qatadah ketika
menjelaskan bahwa “Allah menyeru
(manusia) ke Darussalam (surga)”, menyebutkan didalam kitab Taurat ada
tertulis, “Wahai
pencari kebaikan kemarilah! Wahai pencari kebururukan berhentilah!”
Dari Abu Darda` radhiyallahu
‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
: ”Tidaklah setiap hari, dimana matahari terbit, kecuali di dua sisinya
ada dua malaikat yang berseru, yang didengar oleh semua makhluk Allah kecuali
jin dan manusia :
Wahai Manusia bersegeralah menghadap kepada Tuhanmu. Sesungguhnya apa
yang sedikit tapi mencukupi itu lebih baik dari pada yang banyak tapi melalaikan.”
Abu Darda` berkata : “Dan
Allah menurunkan hal itu di dalam Qur`an di dalam firman-Nya : (Dan Allah
menyeru manusia ke Darussalam dan memberikan petunjuk kepada orang yang
dikehendaki ke jalan yang lurus.”
Dari Abu Qalabah, dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
beliau bersabda : ”Dikatakan kepadaku
hendaklah matamu tidur, hatimu berfikir, dan telingamu mendengar. Maka kemudian
mataku tidur, hatiku berfikir dan telingaku mendengar. Selanjutnya di katakan :
Ada seorang majikan membangun sebuah rumah, kemudian membuat hidangan dan
mengutus pemberi undangan. Siapakah yang mau memenuhi undangan itu, masuk ke
dalam rumah, memakan dari hidangannya dan majikannya ridha kepadanya. Dan
siapakah yang tidak mau memenuhi undangan, tidak masuk ke dalam rumah, tidak
makan hidangannya dan majikan itu tidak ridha kepadanya. Majikan itu adalah
Allah. Rumah itu agama islam. Hidangan itu surga dan yang mengundang itu Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”.
Dalam dua ayat ini, dan
beberapa penjelasan sunnah dan atsar dalam tafsir diatas, seakan akan Allah
ingin memberitahukan kepada Nabi-Nya, dan juga kepada para pengikutnya, bahwa
usaha yang paling tinggi nilainya di hadapan Allah adalah usaha dakwah.
Yaitu usaha mengajak manusia beriman dan taat kepada Allah, agar mendapatkan
ampunan dan surga-Nya. Hal ini dapat kita pahami dari keterlibatan Allah
langsung dalam dakwah, sebagaimana ditunjukkan oleh dua ayat di atas.
Kalau Allah
memerintahkan suatu amalan, Allah sebagai Tuhan yang memberi perintah, tidak
perlu mengerjakan perintah itu untuk dirinya. Allah memerintahkan shalat kepada
hamba-Nya, Allah tidak perlu mengerjakan shalat. Allah memerintahkan haji
kepada hamba-Nya, Allah sendiri tidak berhaji, dan begitu juga dengan
perintah-perintah yang lain. Karena Dia adalah Allah Sang Maha Raja yang
menguasai kerajaan langit dan bumi, kerajaan dunia dan akhirat. Kepadanyalah
bersujud segala sesuatu. Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi dan tidak
berhak beribadah. Karena tidak ada Tuhan lain selain diri-Nya.
Namun ketika Allah
memerintahkan usaha dakwah kepada Para Nabi-Nya, kemudian yang terahir
kepada Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam dan para pengikutnya, Allah juga memberikan informasi
didalam kitab-Nya, sebagaimana yang termuat dalam dua ayat di atas, bahwa Allah
juga melakukan dakwah, yaitu mengajak manusia agar mau menuju ampunan-Nya
dan menjadi penghuni surga-Nya. Allah menurunkan syari`at-Nya dan memberikan
perintah serta larangan-Nya.
Dari sini kita dapat
mengetahui, betapa pentingnya usaha dakwah. Kita dapat memahami, kenapa
Allah meminta pengorbanan para Nabi-Nya dalam menjalankan usaha yang besar ini.
Kalau untuk usaha mendapatkan dunia, yang nilainya dihadapan Allah tidak lebih
dari sebelah sayap nyamuk saja, manusia perlu berkorban, lalu bagaimana dengan
usaha membawa manusia menuju ampunan Allah dan surga-Nya.
Siapapun yang ikut ambil bagian dalam usaha yang besar
ini, ia akan diminta pengorbanan yang serupa dengan pengorbanan para Nabi dan
Rasul ‘alaihimus salam. Atau minimal
berusaha meneladaninya sebatas kemampuannya, sebagai manusia biasa.
Namun Allah bukan berarti ingin menyusahkan mereka
para da`i-Nya, tapi Allah ingin mengetahui, siapa yang benar-benar
bersungguh-sungguh dalam menjalankan usaha ini, dan siapa yang hanya
bermain-main. Karena ini juga pekerjaan Allah, bukan pekerjaan main-main.
Para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam telah lulus dan
berhasil dalam menjalankan usaha ini. Usaha mereka telah diterima oleh Allah,
sebagaimana yang banyak diceritakan dalam Al Qur`an. Terutama mereka adalah
para nabi Ulul `Azmi. Dan sebagai gantinya, janji Allah bagi orang yang telah
menyempurnakan usaha ini, telah datang kepada kehidupan mereka, berupa
penjagaan dan pertolongan Allah kepada mereka. Pertolongan terbesar adalah
mereka telah dipilih oleh Allah sebagai para kekasih-Nya yang mendapat
keridhaan-Nya di dunia dan di akhirat.
Begitu pula, janji
Allah itu telah datang pada kehidupan para shahabat, setelah mereka
menyempurnakan pengorbanan mereka di dalam usaha yang besar ini, baik ketika
Rasulullah masih hidup maupun setelah wafatnya. Agama inipun tersebar hampir di
seluruh dunia di tangan mereka. Banyak pertolongan Allah telah datang kepada
mereka. Sebagai bukti terbesar dari di terimanya pengorbanan mereka adalah pernyataan
Allah sendiri dalam Al Qur`an, yaitu bahwa
“Allah telah ridha kepada mereka, dan merekapun ridha kepada
Allah.”
Saat ini, usaha ini
telah berada di pundak kita, adakah kita mampu menjadi barisan di belakang para
shahabat dari golongan Muhajirin dan Anshar, sebagai pengikut dan penerus
perjuangan mereka, sehingga janji Allah yang telah diberikan kepada mereka,
juga datang kepada kita. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur`an, surah At
Taubah, ayat 100 :
وَالسَّابِقُوْنَ
الْأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُم
بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا ۚ
ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama
(masuk islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha
kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah
kemenangan yang agung”.
Seluruh Kalamullah dalam Al Qur’an adalah Kalimat
Dakwah.
Alhamdulillah kita
telah mengetahui dari dua ayat di atas, bahwa Allah adalah “Da`i” yang
mengajak manusia kepada pengampunan dan surga-Nya. Kali ini, melalui beberapa
ayat Al Qur`an, Allah memberikan informasi kepada kita, bahwa seluruh firman
Allah dalam Al Qur`an berisi tentang dakwah. Ayat-ayat yang menjelaskan tentang
hal ini termaktub dalam surat Ibrahim, ayat 52. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
هَـٰذَا بَلَاغٌ
لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ
وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Dan (Al Qur`an) ini adalah balagh (penjelasan
yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya,
agar mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar
orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
Dalam surat Thaha, ayat
1 – 3, Allah berfirman :
طه . مَا أَنزَلْنَا
عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ . إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَنْ يَخْشَىٰ
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur`an ini kepadamu
(Muhammad) agar kamu menjadi susah. Melainkan sebagai peringatan bagi
orang yang takut (kepada Allah).”
Dalam surat Al Furqan,
ayat 1, Allah berfirman :
تَبَارَكَ الَّذِي
نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al
Qur`an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan
kepada seluruh alam” .
Dalam surat Al
Mudatstsir, ayat 54 – 55, Allah berfirman :
كَلَّا إِنَّهُ
تَذْكِرَةٌ . فَمَن شَاءَ ذَكَرَهُ
“.....Sesungguh-nya Al Qur`an itu benar-benar suatu
peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil peringatan
dari padanya (Al Qur`an).”
Dalam surat Al Haaqqah,
ayat 48, Allah berfirman :
وَإِنَّهُ
لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ
"Dan sesungguhnya Al Qur`an itu benar-benar satu peringatan
(pelajaran) bagi orang-orang yang bertakwa”.
Kesimpulan :
Telah jelas bagi kita,
dimana Allah sendiri yang menjelaskan, bahwa seluruh firman Allah dalam Al
Qur`an adalah kalam dakwah, yang berisi peringatan dan pelajaran, dalam
rangka dakwah dan tabligh, yang harus disampaikan kepada
manusia. Namun orang yang paling banyak mengambil pelajaran dan peringatan dari
kalamullah dalam Al Qur`an adalah : orang yang berakal, orang yang takut kepada
Allah, dan orang yang bertakwa.