Sabtu, 15 September 2018

3. ALLAH SWT ADALAH DA'I

Related image
Di dalam Al Qur`an, Allah subhanahu wa ta’ala telah mejelaskan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan ummatnya, bahwa Dia adalah “Da`i“. Dai dalam pengertian, bahwa Allah mengajak manusia untuk menjadi penghuni surga, yaitu kampung kedamaian dan keselamatan. Begitu pula Allah mengajak manusia agar memasuki pintu gerbang pengampunan-Nya.
Penjelasan Allah ini termaktub dalam Al Qur`an :
1. Surat Al Baqarah, ayat 221, yaitu :
وَاللَّهُ يَدْعُوْ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ
“...Dan Allah mengajak (manusia) ke surga dan ampunan dengan izin-Nya...”
Ibnu Jarir At Thabari, dalam kitab tafsirnya Jilid IV, halaman 37, berkata, “Yang di maksud oleh ayat itu : ”Allah menyeru kalian untuk mengerjakan amal yang menyebabkan kalian masuk surga dan membuat kalian selamat dari neraka. Begitu pula Allah menyeru kepada amal yang menyebabkan kesalahan dan dosa-dosa kalian terhapus, sehingga Allah memaafkannya dan menutupinya atas kalian.”
Yang di maksud “dengan izin-Nya“, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, jilid I Halaman 585, berkata : “Yang dimaksud (dengan izin-Nya), ialah dengan Syari`at-Nya dan dengan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang-Nya.”
2. Surat Yunus, ayat 25, yaitu :
وَاللَّهُ يَدْعُوْ إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam).”
Ibnu Jarir Ath Thabariy, dalam kitab tafsirnya, jilid 15, halaman 61, berkata : Qatadah ketika menjelaskan bahwa “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga)”, menyebutkan didalam kitab Taurat ada tertulis,  “Wahai pencari kebaikan kemarilah! Wahai pencari kebururukan berhentilah!”
Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Tidaklah setiap hari, dimana matahari terbit, kecuali di dua sisinya ada dua malaikat yang berseru, yang didengar oleh semua makhluk Allah kecuali jin dan manusia :
Wahai Manusia bersegeralah menghadap kepada Tuhanmu. Sesungguhnya apa yang sedikit tapi mencukupi itu lebih baik dari pada yang banyak tapi melalaikan.” Abu Darda` berkata : “Dan Allah menurunkan hal itu di dalam Qur`an di dalam firman-Nya : (Dan Allah menyeru manusia ke Darussalam dan memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki ke jalan yang lurus.”
Dari Abu Qalabah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : ”Dikatakan kepadaku hendaklah matamu tidur, hatimu berfikir, dan telingamu mendengar. Maka kemudian mataku tidur, hatiku berfikir dan telingaku mendengar. Selanjutnya di katakan : Ada seorang majikan membangun sebuah rumah, kemudian membuat hidangan dan mengutus pemberi undangan. Siapakah yang mau memenuhi undangan itu, masuk ke dalam rumah, memakan dari hidangannya dan majikannya ridha kepadanya. Dan siapakah yang tidak mau memenuhi undangan, tidak masuk ke dalam rumah, tidak makan hidangannya dan majikan itu tidak ridha kepadanya. Majikan itu adalah Allah. Rumah itu agama islam. Hidangan itu surga dan yang mengundang itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”.
Dalam dua ayat ini, dan beberapa penjelasan sunnah dan atsar dalam tafsir diatas, seakan akan Allah ingin memberitahukan kepada Nabi-Nya, dan juga kepada para pengikutnya, bahwa usaha yang paling tinggi nilainya di hadapan Allah adalah usaha dakwah. Yaitu usaha mengajak manusia beriman dan taat kepada Allah, agar mendapatkan ampunan dan surga-Nya. Hal ini dapat kita pahami dari keterlibatan Allah langsung dalam dakwah, sebagaimana ditunjukkan oleh dua ayat di atas.
Kalau Allah memerintahkan suatu amalan, Allah sebagai Tuhan yang memberi perintah, tidak perlu mengerjakan perintah itu untuk dirinya. Allah memerintahkan shalat kepada hamba-Nya, Allah tidak perlu mengerjakan shalat. Allah memerintahkan haji kepada hamba-Nya, Allah sendiri tidak berhaji, dan begitu juga dengan perintah-perintah yang lain. Karena Dia adalah Allah Sang Maha Raja yang menguasai kerajaan langit dan bumi, kerajaan dunia dan akhirat. Kepadanyalah bersujud segala sesuatu. Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi dan tidak berhak beribadah. Karena tidak ada Tuhan lain selain diri-Nya.
Namun ketika Allah memerintahkan usaha dakwah kepada Para Nabi-Nya, kemudian yang terahir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya, Allah juga memberikan informasi didalam kitab-Nya, sebagaimana yang termuat dalam dua ayat di atas, bahwa Allah juga melakukan dakwah, yaitu mengajak manusia agar mau menuju ampunan-Nya dan menjadi penghuni surga-Nya. Allah menurunkan syari`at-Nya dan memberikan perintah serta larangan-Nya.
Dari sini kita dapat mengetahui, betapa pentingnya usaha dakwah. Kita dapat memahami, kenapa Allah meminta pengorbanan para Nabi-Nya dalam menjalankan usaha yang besar ini. Kalau untuk usaha mendapatkan dunia, yang nilainya dihadapan Allah tidak lebih dari sebelah sayap nyamuk saja, manusia perlu berkorban, lalu bagaimana dengan usaha membawa manusia menuju ampunan Allah dan surga-Nya.
Siapapun yang ikut ambil bagian dalam usaha yang besar ini, ia akan diminta pengorbanan yang serupa dengan pengorbanan para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam. Atau minimal berusaha meneladaninya sebatas kemampuannya, sebagai manusia biasa.
Namun Allah bukan berarti ingin menyusahkan mereka para da`i-Nya, tapi Allah ingin mengetahui, siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh dalam menjalankan usaha ini, dan siapa yang hanya bermain-main. Karena ini juga pekerjaan Allah, bukan pekerjaan main-main.
Para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam telah lulus dan berhasil dalam menjalankan usaha ini. Usaha mereka telah diterima oleh Allah, sebagaimana yang banyak diceritakan dalam Al Qur`an. Terutama mereka adalah para nabi Ulul `Azmi. Dan sebagai gantinya, janji Allah bagi orang yang telah menyempurnakan usaha ini, telah datang kepada kehidupan mereka, berupa penjagaan dan pertolongan Allah kepada mereka. Pertolongan terbesar adalah mereka telah dipilih oleh Allah sebagai para kekasih-Nya yang mendapat keridhaan-Nya di dunia dan di akhirat. 
Begitu pula, janji Allah itu telah datang pada kehidupan para shahabat, setelah mereka menyempurnakan pengorbanan mereka di dalam usaha yang besar ini, baik ketika Rasulullah masih hidup maupun setelah wafatnya. Agama inipun tersebar hampir di seluruh dunia di tangan mereka. Banyak pertolongan Allah telah datang kepada mereka. Sebagai bukti terbesar dari di terimanya pengorbanan mereka adalah pernyataan Allah sendiri dalam Al Qur`an, yaitu bahwa  Allah telah ridha kepada mereka, dan merekapun ridha kepada Allah.”
Saat ini, usaha ini telah berada di pundak kita, adakah kita mampu menjadi barisan di belakang para shahabat dari golongan Muhajirin dan Anshar, sebagai pengikut dan penerus perjuangan mereka, sehingga janji Allah yang telah diberikan kepada mereka, juga datang kepada kita. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur`an, surah At Taubah, ayat 100 :
وَالسَّابِقُوْنَ الْأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا ۚ ذَ‌ٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”.
Seluruh Kalamullah dalam Al Qur’an adalah Kalimat Dakwah.
Alhamdulillah kita telah mengetahui dari dua ayat di atas, bahwa Allah adalah “Da`i” yang mengajak manusia kepada pengampunan dan surga-Nya. Kali ini, melalui beberapa ayat Al Qur`an, Allah memberikan informasi kepada kita, bahwa seluruh firman Allah dalam Al Qur`an berisi tentang dakwah. Ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini termaktub dalam surat Ibrahim, ayat 52. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
هَـٰذَا بَلَاغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Dan (Al Qur`an) ini adalah balagh (penjelasan yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
Dalam surat Thaha, ayat 1 – 3, Allah berfirman :
طه . مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ . إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَنْ يَخْشَىٰ
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur`an ini kepadamu (Muhammad) agar kamu menjadi susah. Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”
Dalam surat Al Furqan, ayat 1, Allah berfirman :
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al Qur`an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” .
Dalam surat Al Mudatstsir, ayat 54 – 55, Allah berfirman :
كَلَّا إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ . فَمَن شَاءَ ذَكَرَهُ
“.....Sesungguh-nya Al Qur`an itu benar-benar suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil peringatan dari padanya (Al Qur`an).” 
Dalam surat Al Haaqqah, ayat 48, Allah berfirman :
وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ
"Dan sesungguhnya Al Qur`an itu benar-benar satu peringatan (pelajaran) bagi orang-orang yang bertakwa”.
Kesimpulan : 
Telah jelas bagi kita, dimana Allah sendiri yang menjelaskan, bahwa seluruh firman Allah dalam Al Qur`an adalah kalam dakwah, yang berisi peringatan dan pelajaran, dalam rangka dakwah dan tabligh, yang harus disampaikan kepada manusia. Namun orang yang paling banyak mengambil pelajaran dan peringatan dari kalamullah dalam Al Qur`an adalah : orang yang berakal, orang yang takut kepada Allah, dan orang yang bertakwa.

Sabtu, 07 Oktober 2017

2. ASMA'UL HUSNA



Sejarah Diturunkan Ayat tentang Asmaul Husna
Di dalam kitab asbabunnuzul diterangkan bahwa pada suatu hari Rasulullah melakukan shalat di Mekah dan berdoa dengan kata-kata: "Ya Rahman, Ya Rahim". kemudian Doa tersebut terdengar oleh sebagian kaum musyrikin. Saat itu kamu musyrikin berkata, "Perhatikan orang yang murtad dari agamanya! dia melarang kita menyeru dua Tuhan, dan ia sendiri menyeru dua Tuhan".
Dari adanya ucapan tersebut, turunlah Surat Al-Isra:110:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا 
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalat mu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".(Q.S. Al-Isra:110)
Berdasarkan Surat Al-Isra:110, kaum musyrikin mengira bahwa Rasulullah, menyebut nama Allah dan Ar-Rahman karena sepengetahuan mereka di daerah Yamamah ada orang yang mempunyai nama Rahman. Dengan turunnya Q.S. al-Isra ayat 110, hal tersebut mematahkan dugaan mereka (kaum musyrikin). Kemudian Pada ayat lain, Allah SWT berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ 
"Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (Q.S. Al-A’raf:180).
Pengertian Asmaul Husna
Secara harfiyah, pengertian Asmaul Husna adalah "nama-nama yang baik".
Asmaul Husna merujuk kepada nama-nama, gelar, sebutan, sekaligus sifat-sifat Allah SWT yang indah lagi baik.
Istilah Asmaul Husna juga dikemukakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
"Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai asmaa'ul husna (nama-nama yang baik)" (Q.S. Thaha:8).
Umat Islam dianjurkan berdoa kepada Allah sambil menyebut Asmaul Husna. Misalnya, saat seorang Muslim memohon ampunan-Nya, maka ia berdoa mohon ampun sambil menyebut "Al-Ghoffaar" (Yang Maha Pengampun) dan seterusnya.
"Katakanlah (olehmu Muhammad): Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna (nama-nama yang terbaik)..." (Q.S Al-Israa': 110).
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُالْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا...
"Allah memiliki Asmaul Husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu..." (QS. Al-A'raaf : 180).
Jumlah Asmaul Husna adalah  99 nama, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, diperkuat dengan hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata Nabi Muhammad Saw bersabda:  
إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًامِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَادَخَلَ الْجَنَّةَ
"Sesungguhnya Allah Swt mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal seluruhnya) masuklah ia kedalam surga" (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Baihaqy).
Selain 99 Nama Asmaul Husna di atas, terdapat versi tambahan. Jumlah 99 adalah yang paling masyhur berdasarkan hadits shahih.
Selain itu, Ibnu Hamz meriwayatkan jumlah Asmaul-Husna dengan 84 nama, Al-Asbahani dengan 95 nama, Walid bin Muslim, Abdul Aziz ibn Al-Husain dan Ibnu Hajar dengan 99 nama, Abdul Malik Al-Sona’any 100, Ibnu Majah 114 nama, Al-Qurtuby menyebutkan 117 nama, Imam Thabrani 130 nama,  Ibnu Araby 141  nama, Ibnu Mandah 148 nama, Al-Baihaqi 154 nama, dan Ibnu Al-Wazir 167 nama.
Tambahan Asma-Ul-Husna Menurut Versi Thabrani
1. ar-Raab = Maha Memelihara
2. al-Ilah = Tuhan
3. al-Hannan = Maha Kasih
4. al-Mannan = Maha Pemberi Anugerah
5. al-Bari’ = Maha Menjadikan
6. al-Qaimul Fard = Maha Berdiri Sendiri
7. al-Qadir = Maha Menentukan
8. al-Farad = Maha Sendiri
9. al-Mughits = Maha Membantu
10. ad-Da’im = Maha Kekal
11. al-Hamid = Maha Terpuji
12. al-Jamil = Maha Indah
13. as-Shadiq = Maha Benar
14. al-Muwalli = Maha Memimpin
15. an-Nashir = Maha Penolong
16. al-Qadim = Maha Dahulu
17. al-Witru = Maha Esa
18. al-Fathir = Maha Pencipta
19. al-Allam = Maha Mengetahui
20. al-Malik = Maha Raja
21. al-Ikram = Maha Mulia
22. al-Mudabbir = Maha Mengatur
23. al-Maalik = Maha Memiliki
24. as-Syakur = Maha Mensyukuri
25. ar-Rafi’ = Maha Tinggi
26. Zul Thawil = Maha Mempunyai Kekuasaan
27. Zul Ma’arij = Maha Mempunyai Jenjang/ tahapan
28. Zul Fadhlil = Khalaq Maha Mempunyai Kelebihan Makhluk
29. al-Mun’im = Maha Pemberi Nikmat
30. al-Mutafadhal = Maha Utama
31. as-Sari’ = Maha Cepat
Tambahan Asma-Ul-Husna versi Ibnu Hazmi
1. al-Khafi = Maha Tersembunyi
2. al-Ghallab = Maha Menang
3. al-Musta’an = Maha Penolong
Tambahan Asma-Ul-Husna versi Ibnu Majah Dari Al-Araj
1. al-Bari’ = Maha Pemelihara
2. al-Rasyid = Maha Cendikiawan
3. al-Burhan = Maha Pembukti
4. as-Syadid = Maha Keras
5. al-Waqi = Maha Pemelihara
6. al-Qaim = Maha Berdiri
7. al-Hafiz = Maha Menjaga
8. an-Nazhir = Maha Melihat
9. as-Sami’ = Maha Mendengar
10. al-Mu’thi = Maha Pemberi
11. al-Abad = Maha Abadi
12. al-Munir = Maha Menerangi
13. at-Taam = Maha Sempurna
14. al-Qadim = Maha Kekal
15. al-Witru = Maha Esa
Keagungan Asmaul Husna
Nama-nama Allah (asma ‘ul-husna) yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah sebagai berikut :
·  Nama yang berhubungan dengan Allah ialah; al-Wahid atau Ahad (Yang Maha Esa), al-Haqq (Yang Maha Benar), al-Quddus (Yang Maha Suci) al-Shamad (Yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya) sedang DIA sendiri tak bergantung kepada siapa pun, al-Ghani (Yang Maha-cukup sendiri) al-Awwal (Yang paling awal), al-Akhir (Yang paling akhir), al-Hayyu (Yang hidup kekal), al-Qayyum (Yang maujud sendiri).
·  Nama yang berhubungan dengan makhluk Allah ialah; al-Khaliq (Yang menciptakan), al-Bari (Yang menciptakan ruh), al-Mushawwir (Yang membentuk), al-Badi’ (Yang menciptakan pertama kali).
·  Nama yang berhubungan dengan sifat cinta kasih Allah (selain sifat Rabb, Rahman dan Rahiim) ialah; al-Rauf (Yang Maha kasih sayang), al-Wadud (Yang penuh cinta kasih), al-Lathif (Yang lembut hati), al-Tawwab (Yang berulang-ulang kasih sayang-Nya), al-Halim (Yang Maha penyantun), al-’Afuwwu (Yang Maha Mengampuni), al-Syakur (Yang melipat ganjaran), al-Salam (Pencipta perdamaian), al-Mu’min (Yang menganugrahkan keamanan), al-Barru (Yang dermawan), Rafi’ud-Drajat (Yang meninggikan drajat), al-Razzaq (Pemberi rezeki), al-Wahhab (Yang Maha Memberi), al-Wasi’ (Yang melimpah pemberian-Nya).
·  Nama yang berhubungan dengan keagungan dan kemuliaan Allah ialah; al-’Adzim (Yang Maha agung), al-’Aziz (Yang Maha perkasa), al-’Aliyyu atau Muta’al (Yang Maha Luhur), al-Qawiyyu (Yang Maha Kuat), al-Qahhar (Yang Maha unggul, al-Jabbar (Yang memperbaiki segala sesuatu dengan kekuatanyang luar biasa), al-Mutakabbir (Yang memiliki kebesaran), al-Kabir (Yang Maha-besar), al-Karim (Yang Maha-mulia), al-Hamid (Yang Maha-terpuji), al-Majid (Yang Maha Jaya), al-Matin (Yang Maha-Kuat), azh-Zhahir (Yang menang), Dhul-Jalali wal-Ikram (Yang mempunyai keagungan dan kemuliaan).
·  Nama yang berhubungan dengan ilmu Allah ialah; al-’Alim (Yang Maha Tahu), al-Hakim (Yang Maha bijaksana), as-Sami’ (Yamg Maha melihat), asy-Syahid (Yang Maha menyaksikan), ar-Raqib (Yang Maha mengawasi), al-Bathin (Yang Maha tahu segala sesuatu yang tersembunyi), al-Muhaimin (Yang menjaga semuanya).
·  Nama yang berhubungan dengan penguasaan Allah terhadap makhluk ialah; al-Qadir atau Muqtadir (Yang Maha-kuasa), al-Wakil (Yang mengurus segala sesuatu), al-Waliyyu (Yang melindungi), al-Hafizh (Yang memelihara), al-Maalik (Raja), al-Malik (Yang memiliki), al-Fattah (Yang memutus perkara), al-Haasib atau al-Hasiib (Yang menghitung), al-Mutaqim atau Dhun tiqam (Yang menimpakan pembalasan), al-Muqith (Yang menguasai segala sesuatu).
Nama Allah yang di ambil dari beberapa perbuatan atau sifat Allah yang disebutkan dalam al-Qur’an ialah; al-Qabidlu (Yang menyempitkan), al-Basithu (Yang melapangkan), al-Rafi’u (Yang meninggikan), al-Muizzu (Yang memberi kehormatan), al-Mudhillu (Yang mendatangkan kehinaan), al-Mujib (Yang mengabulkan do’a), al-Baits (Yang membangkitkan dari kubur), al-Muhsyi (Yang mencatat segala sesuatu), al-Mubdi (Yang memulai), al-Mu’id (Yang mengulangi), al-Muhyi (Yang memberi hidup), al-Mumit (Yang menyebabkan mati), Malikul-mulk (Yang memiliki kerajaan), al-Jami (Yang menghimpun) al-Mughni (Yang memperkaya), al-Mu’thi (Yang memberi), al-Mani’ (Yang menahan atau mencegah), al-Hadi (Yang memberi petunjuk), al-Baqi (Yang kekal), al-Waris (Yang mewariskan segala sesuatu).
Adapun sisa dari 99 asma’ul-husna ialah; an-Nur (Cahaya). Allah Ta’ala di sebut Nur dalam arti Yang memberi cahaya (QS.24:35); ash-Shabur (Yang Maha-sabar), ar-Rasyid (Yang menunjukkan), al-Muqsith (Yang tak berat sebelah), al-Wali (Yang memerintah), al-Jalil (Yang penuh kebesaran), al-’Adlu (Yang Maha adil), al-Khafidlu (Yang memelihara), al-Wajid (Yang maujud), al-Muqaddim (Yang terdahulu), al-Muakhir (Yang terakhir), adl-Diarr (Yang mendatangkan kemalangan), an-Nafi’u (Yang memberi faedah). Masih ada dua sifat Allah yang berhubungan dengan kalam (firman) dan iradah (kehendak).
Sifat cinta kasih Allah dalam al-Qur’an lebih ditonjolkan ketimbang Kitab Suci yang lain. Bukan saja setiap surat diawali dengan dua sifat Rahman dan Rahim, ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah itu amat menonjol, bahkan al-Qur’an melangkah lebih jauh lagi, dengan memberi tekanan berat kepada Maha-luasnya rahmat (kemurahan) Allah yang tak terhingga.
Berikut ini beberapa contoh yang disebutkan dalam al-Qur’an :
”Ia telah menetapkan rahmat atas diri-Nya” (QS.6:12 & 54).
”Tuhan kamu adalah Tuhannya rahmat yang maha-luas” (QS.6:164).
”Dan kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu” (QS.7:156).
”...kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS.11:119).
”Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS.39:53).
”Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu,” (QS.40:7).
Rahmat Allah begitu besar, hingga itu merangkum kaum mukmin dan kaum kafir, sebagaimana diuraikan dalam ayat tersebut. Malahan para musuh Nabi juga dikaruniai rahmat Allah. Al-Qur’an menyatakan:
”Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datangnya) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam (menentang) tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS.10:21).
Gambaran sifat Allah yang dilukiskan dalam al-Qur’an dari awal hingga akhir, semuanya berupa cinta dan kasih sayang; dan sementara sifat kasih sayang Allah diuraikan dengan berbagai nama dan diulang beratus kali, sifat Allah menimpakan siksaan – Yang menimpakan pembalasan – hanya tercantum empat kali saja di seluruh al-Qur’an.
·  "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya.” (QS.3:30),
·  ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka'bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (QS.5:95),
·  ”Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-raaul-Nya; sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan.” (QS.14:47), dan
·  ”Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?” (QS.39:37)

No.
Nama
Arab
Indonesia

Allah
الله
Allah
1
Ar Rahman
الرحمن
Yang Maha Pengasih
2
Ar Rahiim
الرحيم
Yang Maha Penyayang
3
Al Malik
الملك
Yang Maha Merajai/Memerintah
4
Al Quddus
القدوس
Yang Maha Suci
5
As Salaam
السلام
Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6
Al Mu`min
المؤمن
Yang Maha Memberi Keamanan
7
Al Muhaimin
المهيمن
Yang Maha Pemelihara
8
Al `Aziiz
العزيز
Yang Maha Perkasa
9
Al Jabbar
الجبار
Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
10
Al Mutakabbir
المتكبر
Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11
Al Khaliq
الخالق
Yang Maha Pencipta
12
Al Baari`
البارئ
Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13
Al Mushawwir
المصور
Yang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)
14
Al Ghaffaar
الغفار
Yang Maha Pengampun
15
Al Qahhaar
القهار
Yang Maha Memaksa
16
Al Wahhaab
الوهاب
Yang Maha Pemberi Karunia
17
Ar Razzaaq
الرزاق
Yang Maha Pemberi Rezeki
18
Al Fattaah
الفتاح
Yang Maha Pembuka Rahmat
19
Al `Aliim
العليم
Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20
Al Qaabidh
القابض
Yang Maha Menyempitkan (makhluk-Nya)
21
Al Baasith
الباسط
Yang Maha Melapangkan (makhluk-Nya)
22
Al Khaafidh
الخافض
Yang Maha Merendahkan (makhluk-Nya)
23
Ar Raafi`
الرافع
Yang Maha Meninggikan (makhluk-Nya)
24
Al Mu`izz
المعز
Yang Maha Memuliakan (makhluk-Nya)
25
Al Mudzil
المذل
Yang Maha Menghinakan (makhluk-Nya)
26
Al Samii`
السميع
Yang Maha Mendengar
27
Al Bashiir
البصير
Yang Maha Melihat
28
Al Hakam
الحكم
Yang Maha Menetapkan
29
Al `Adl
العدل
Yang Maha Adil
30
Al Lathiif
اللطيف
Yang Maha Lembut
31
Al Khabiir
الخبير
Yang Maha Mengenal
32
Al Haliim
الحليم
Yang Maha Penyantun
33
Al `Azhiim
العظيم
Yang Maha Agung
34
Al Ghafuur
الغفور
Yang Maha Pengampun
35
As Syakuur
الشكور
Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36
Al `Aliy
العلى
Yang Maha Tinggi
37
Al Kabiir
الكبير
Yang Maha Besar
38
Al Hafizh
الحفيظ
Yang Maha Memelihara
39
Al Muqiit
المقيت
Yang Maha Pemberi Kecukupan
40
Al Hasiib
الحسيب
Yang Maha Membuat Perhitungan
41
Al Jaliil
الجليل
Yang Maha Mulia
42
Al Kariim
الكريم
Yang Maha Mulia
43
Ar Raqiib
الرقيب
Yang Maha Mengawasi
44
Al Mujiib
المجيب
Yang Maha Mengabulkan
45
Al Waasi`
الواسع
Yang Maha Luas
46
Al Hakiim
الحكيم
Yang Maha Maka Bijaksana
47
Al Waduud
الودود
Yang Maha Mengasihi
48
Al Majiid
المجيد
Yang Maha Mulia
49
Al Baa`its
الباعث
Yang Maha Membangkitkan
50
As Syahiid
الشهيد
Yang Maha Menyaksikan
51
Al Haqq
الحق
Yang Maha Benar
52
Al Wakiil
الوكيل
Yang Maha Memelihara
53
Al Qawiyyu
القوى
Yang Maha Kuat
54
Al Matiin
المتين
Yang Maha Kokoh
55
Al Waliyy
الولى
Yang Maha Melindungi
56
Al Hamiid
الحميد
Yang Maha Terpuji
57
Al Muhshii
المحصى
Yang Maha Mengkalkulasi
58
Al Mubdi`
المبدئ
Yang Maha Memulai
59
Al Mu`iid
المعيد
Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
60
Al Muhyii
المحيى
Yang Maha Menghidupkan
61
Al Mumiitu
المميت
Yang Maha Mematikan
62
Al Hayyu
الحي
Yang Maha Hidup
63
Al Qayyuum
القيوم
Yang Maha Mandiri
64
Al Waajid
الواجد
Yang Maha Penemu
65
Al Maajid
الماجد
Yang Maha Mulia
66
Al Wahiid
الواحد
Yang Maha Tunggal
67
Al Ahad
الاحد
Yang Maha Esa
68
As Shamad
الصمد
Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69
Al Qaadir
القادر
Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70
Al Muqtadir
المقتدر
Yang Maha Berkuasa
71
Al Muqaddim
المقدم
Yang Maha Mendahulukan
72
Al Mu`akkhir
المؤخر
Yang Maha Mengakhirkan
73
Al Awwal
الأول
Yang Maha Awal
74
Al Aakhir
الأخر
Yang Maha Akhir
75
Az Zhaahir
الظاهر
Yang Maha Nyata
76
Al Baathin
الباطن
Yang Maha Ghaib
77
Al Waali
الوالي
Yang Maha Memerintah
78
Al Muta`aalii
المتعالي
Yang Maha Tinggi
79
Al Barri
البر
Yang Maha Penderma
80
At Tawwaab
التواب
Yang Maha Penerima Tobat
81
Al Muntaqim
المنتقم
Yang Maha Pemberi Balasan
82
Al Afuww
العفو
Yang Maha Pemaaf
83
Ar Ra`uuf
الرؤوف
Yang Maha Pengasuh
84
Malikul Mulk
مالك الملك
Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85
Dzul Jalaali Wal Ikraam
ذو الجلال و الإكرام
Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86
Al Muqsith
المقسط
Yang Maha Pemberi Keadilan
87
Al Jamii`
الجامع
Yang Maha Mengumpulkan
88
Al Ghaniyy
الغنى
Yang Maha Kaya
89
Al Mughnii
المغنى
Yang Maha Pemberi Kekayaan
90
Al Maani
المانع
Yang Maha Mencegah
91
Ad Dhaar
الضار
Yang Maha Penimpa Kemudharatan
92
An Nafii`
النافع
Yang Maha Memberi Manfaat
93
An Nuur
النور
Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94
Al Haadii
الهادئ
Yang Maha Pemberi Petunjuk
95
Al Baadii
البديع
Yang Indah Tidak Mempunyai Banding
96
Al Baaqii
الباقي
Yang Maha Kekal
97
Al Waarits
الوارث
Yang Maha Pewaris
98
Ar Rasyiid
الرشيد
Yang Maha Pandai
99
As Shabuur
الصبور
Yang Maha Sabar