Sabtu, 15 September 2018

3. ALLAH SWT ADALAH DA'I

Related image
Di dalam Al Qur`an, Allah subhanahu wa ta’ala telah mejelaskan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan ummatnya, bahwa Dia adalah “Da`i“. Dai dalam pengertian, bahwa Allah mengajak manusia untuk menjadi penghuni surga, yaitu kampung kedamaian dan keselamatan. Begitu pula Allah mengajak manusia agar memasuki pintu gerbang pengampunan-Nya.
Penjelasan Allah ini termaktub dalam Al Qur`an :
1. Surat Al Baqarah, ayat 221, yaitu :
وَاللَّهُ يَدْعُوْ إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ
“...Dan Allah mengajak (manusia) ke surga dan ampunan dengan izin-Nya...”
Ibnu Jarir At Thabari, dalam kitab tafsirnya Jilid IV, halaman 37, berkata, “Yang di maksud oleh ayat itu : ”Allah menyeru kalian untuk mengerjakan amal yang menyebabkan kalian masuk surga dan membuat kalian selamat dari neraka. Begitu pula Allah menyeru kepada amal yang menyebabkan kesalahan dan dosa-dosa kalian terhapus, sehingga Allah memaafkannya dan menutupinya atas kalian.”
Yang di maksud “dengan izin-Nya“, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, jilid I Halaman 585, berkata : “Yang dimaksud (dengan izin-Nya), ialah dengan Syari`at-Nya dan dengan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang-Nya.”
2. Surat Yunus, ayat 25, yaitu :
وَاللَّهُ يَدْعُوْ إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Dan Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam).”
Ibnu Jarir Ath Thabariy, dalam kitab tafsirnya, jilid 15, halaman 61, berkata : Qatadah ketika menjelaskan bahwa “Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga)”, menyebutkan didalam kitab Taurat ada tertulis,  “Wahai pencari kebaikan kemarilah! Wahai pencari kebururukan berhentilah!”
Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Tidaklah setiap hari, dimana matahari terbit, kecuali di dua sisinya ada dua malaikat yang berseru, yang didengar oleh semua makhluk Allah kecuali jin dan manusia :
Wahai Manusia bersegeralah menghadap kepada Tuhanmu. Sesungguhnya apa yang sedikit tapi mencukupi itu lebih baik dari pada yang banyak tapi melalaikan.” Abu Darda` berkata : “Dan Allah menurunkan hal itu di dalam Qur`an di dalam firman-Nya : (Dan Allah menyeru manusia ke Darussalam dan memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki ke jalan yang lurus.”
Dari Abu Qalabah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : ”Dikatakan kepadaku hendaklah matamu tidur, hatimu berfikir, dan telingamu mendengar. Maka kemudian mataku tidur, hatiku berfikir dan telingaku mendengar. Selanjutnya di katakan : Ada seorang majikan membangun sebuah rumah, kemudian membuat hidangan dan mengutus pemberi undangan. Siapakah yang mau memenuhi undangan itu, masuk ke dalam rumah, memakan dari hidangannya dan majikannya ridha kepadanya. Dan siapakah yang tidak mau memenuhi undangan, tidak masuk ke dalam rumah, tidak makan hidangannya dan majikan itu tidak ridha kepadanya. Majikan itu adalah Allah. Rumah itu agama islam. Hidangan itu surga dan yang mengundang itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”.
Dalam dua ayat ini, dan beberapa penjelasan sunnah dan atsar dalam tafsir diatas, seakan akan Allah ingin memberitahukan kepada Nabi-Nya, dan juga kepada para pengikutnya, bahwa usaha yang paling tinggi nilainya di hadapan Allah adalah usaha dakwah. Yaitu usaha mengajak manusia beriman dan taat kepada Allah, agar mendapatkan ampunan dan surga-Nya. Hal ini dapat kita pahami dari keterlibatan Allah langsung dalam dakwah, sebagaimana ditunjukkan oleh dua ayat di atas.
Kalau Allah memerintahkan suatu amalan, Allah sebagai Tuhan yang memberi perintah, tidak perlu mengerjakan perintah itu untuk dirinya. Allah memerintahkan shalat kepada hamba-Nya, Allah tidak perlu mengerjakan shalat. Allah memerintahkan haji kepada hamba-Nya, Allah sendiri tidak berhaji, dan begitu juga dengan perintah-perintah yang lain. Karena Dia adalah Allah Sang Maha Raja yang menguasai kerajaan langit dan bumi, kerajaan dunia dan akhirat. Kepadanyalah bersujud segala sesuatu. Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi dan tidak berhak beribadah. Karena tidak ada Tuhan lain selain diri-Nya.
Namun ketika Allah memerintahkan usaha dakwah kepada Para Nabi-Nya, kemudian yang terahir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya, Allah juga memberikan informasi didalam kitab-Nya, sebagaimana yang termuat dalam dua ayat di atas, bahwa Allah juga melakukan dakwah, yaitu mengajak manusia agar mau menuju ampunan-Nya dan menjadi penghuni surga-Nya. Allah menurunkan syari`at-Nya dan memberikan perintah serta larangan-Nya.
Dari sini kita dapat mengetahui, betapa pentingnya usaha dakwah. Kita dapat memahami, kenapa Allah meminta pengorbanan para Nabi-Nya dalam menjalankan usaha yang besar ini. Kalau untuk usaha mendapatkan dunia, yang nilainya dihadapan Allah tidak lebih dari sebelah sayap nyamuk saja, manusia perlu berkorban, lalu bagaimana dengan usaha membawa manusia menuju ampunan Allah dan surga-Nya.
Siapapun yang ikut ambil bagian dalam usaha yang besar ini, ia akan diminta pengorbanan yang serupa dengan pengorbanan para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam. Atau minimal berusaha meneladaninya sebatas kemampuannya, sebagai manusia biasa.
Namun Allah bukan berarti ingin menyusahkan mereka para da`i-Nya, tapi Allah ingin mengetahui, siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh dalam menjalankan usaha ini, dan siapa yang hanya bermain-main. Karena ini juga pekerjaan Allah, bukan pekerjaan main-main.
Para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam telah lulus dan berhasil dalam menjalankan usaha ini. Usaha mereka telah diterima oleh Allah, sebagaimana yang banyak diceritakan dalam Al Qur`an. Terutama mereka adalah para nabi Ulul `Azmi. Dan sebagai gantinya, janji Allah bagi orang yang telah menyempurnakan usaha ini, telah datang kepada kehidupan mereka, berupa penjagaan dan pertolongan Allah kepada mereka. Pertolongan terbesar adalah mereka telah dipilih oleh Allah sebagai para kekasih-Nya yang mendapat keridhaan-Nya di dunia dan di akhirat. 
Begitu pula, janji Allah itu telah datang pada kehidupan para shahabat, setelah mereka menyempurnakan pengorbanan mereka di dalam usaha yang besar ini, baik ketika Rasulullah masih hidup maupun setelah wafatnya. Agama inipun tersebar hampir di seluruh dunia di tangan mereka. Banyak pertolongan Allah telah datang kepada mereka. Sebagai bukti terbesar dari di terimanya pengorbanan mereka adalah pernyataan Allah sendiri dalam Al Qur`an, yaitu bahwa  Allah telah ridha kepada mereka, dan merekapun ridha kepada Allah.”
Saat ini, usaha ini telah berada di pundak kita, adakah kita mampu menjadi barisan di belakang para shahabat dari golongan Muhajirin dan Anshar, sebagai pengikut dan penerus perjuangan mereka, sehingga janji Allah yang telah diberikan kepada mereka, juga datang kepada kita. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur`an, surah At Taubah, ayat 100 :
وَالسَّابِقُوْنَ الْأَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا ۚ ذَ‌ٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”.
Seluruh Kalamullah dalam Al Qur’an adalah Kalimat Dakwah.
Alhamdulillah kita telah mengetahui dari dua ayat di atas, bahwa Allah adalah “Da`i” yang mengajak manusia kepada pengampunan dan surga-Nya. Kali ini, melalui beberapa ayat Al Qur`an, Allah memberikan informasi kepada kita, bahwa seluruh firman Allah dalam Al Qur`an berisi tentang dakwah. Ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini termaktub dalam surat Ibrahim, ayat 52. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
هَـٰذَا بَلَاغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Dan (Al Qur`an) ini adalah balagh (penjelasan yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
Dalam surat Thaha, ayat 1 – 3, Allah berfirman :
طه . مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ . إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَنْ يَخْشَىٰ
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur`an ini kepadamu (Muhammad) agar kamu menjadi susah. Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”
Dalam surat Al Furqan, ayat 1, Allah berfirman :
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al Qur`an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” .
Dalam surat Al Mudatstsir, ayat 54 – 55, Allah berfirman :
كَلَّا إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ . فَمَن شَاءَ ذَكَرَهُ
“.....Sesungguh-nya Al Qur`an itu benar-benar suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil peringatan dari padanya (Al Qur`an).” 
Dalam surat Al Haaqqah, ayat 48, Allah berfirman :
وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ
"Dan sesungguhnya Al Qur`an itu benar-benar satu peringatan (pelajaran) bagi orang-orang yang bertakwa”.
Kesimpulan : 
Telah jelas bagi kita, dimana Allah sendiri yang menjelaskan, bahwa seluruh firman Allah dalam Al Qur`an adalah kalam dakwah, yang berisi peringatan dan pelajaran, dalam rangka dakwah dan tabligh, yang harus disampaikan kepada manusia. Namun orang yang paling banyak mengambil pelajaran dan peringatan dari kalamullah dalam Al Qur`an adalah : orang yang berakal, orang yang takut kepada Allah, dan orang yang bertakwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar